Jumat, 09 Februari 2018


Intermission

                Buku ini mungkin hanya sebuah persembahan untuk seseorang wanita yang begitu banyak membuatku belajar mengenai dengan apa yang telah kita lalui berdua dan buku ini juga sekaligus mewakiliku untuk mengucap sebuah kata perpisahan dimana menurutku hanya inilah satu-satunya cara untukku mampu mengucap segala hal yang ingin ku ungkapkan kepadanya yang mungkin aku melakukanya sedikit berlebihan bila aku harus melukiskan segala apa yang ku rasai untuknya melalui sebuah tulisan lewat segala kenangan kami berdua dimana ada beitu banyak momen yang sedikitpun  tak mampu ku lukiskan melalui kata sederhana hingga pada akhirnya aku pun menggunakan gaya bahasaku sendiri untuknya yang mungkin sulit untuk memahami makna yang ada dalam setiap bahasaku namun biarlah dia bertanya di dalam dirinya sendiri mengenai isyarat yang ada di dalam buku ini, maupun biarlah dia mengerti tentang seberapa hebat dia telah menemaniku selama 1,6 tahun. Dan diantara 1,6 tahun itu mungkin begitu banyak hal yang terlupa hingga mungkin aku hanya mampu mengingat segala hal itu, hanya mampu menyimpan begitu banyak kata di dalam hati yang ingin terucap namun tak tersampai. Pada akhirnya aku hanya mampu mengingat tentang segala waktu yang telah kami berdua lewati bersama, dan masih begitu banyak lagi namun bagiku lewat sebuah buku ini menjadikanya sebuah penyampai dari apa yang tak tersampai untuknya di keseharianku ketika kami berdua berpisah.

                Dia mungkin wanita yang beraneka ragam ( dari sifatnya, sikapnya, pemikiranya, maupun ke egoisanya ), wanita yang penuh dengan teka-teki, satu-satunya wanita yang membuatku begitu bingung harus mengungkap seperti apakah dia, namun taukah dia?, jika senandung partiturnya selalu terdengar seindah kirana yang menemani keseharianku ketika dia masih berada di sampingku dan dia selalu saja mampu memukauku di setiap kali kami bertemu semenjak kami berdua memulai sebuah scenario untuk panggung kecil yang kami berdua miliki hingga menjadi rangkai tulisan seperti ini, saat kami berpapasan menghabiskan waktu berdua, saat tiada waktu terlewatkan untuk saling menemani meski jarak membentang jauh untuk kami berdua sekedar bertemu, ataupun saat dimana kami berdua saling memberi dengan apa yang kami punyai, bagiku semua itu takkan mengubah bahwa dia tetaplah wanita yang begitu menjengkelkan dengan sifat kekanak-kanakanya.

                Dalam sebuah proses penulisan buku ini sendiri terkadang aku seolah terhanyut sendirian ketika memikirkan wanita sepertinya yang begitu anggun dengan sifat kekanak-kanakanya begitu mewarnai keseharianku hingga pada akhirnya aku berfikir bahwa akan sungguh sayang bila aku harus menggambarkan dia dengan kata sederhana karena bagiku meski di ujung kami berpisah dia tak bersetia untuk ke-2 kalinya namun bagiku apa yang telah terangkai berdua bersamanya membuat tulisan ini bercampur aduk dimana keinginan kecil untuk tetap berdua merangkai cerita ini berlanjut masih terasa seolah ada perasaan begitu berat bila ku ingat kembali dia tak lagi di sampingku, untuk menemani kesekian hariku kembali namun pada akhirnya ku yakini bahwa perasaanku yang masih ada untuknya hanyalah sebuah ungkap yang ingin tersampai untuknya disana.

Mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya untuknya bahwa setiap hari dan setiap waktu entah mengapa aku mampu begitu menyayanginya, begitu berbangga menyanyangi wanita sepertinya bukan dari sebuah kecantikanya atau pun kelebihan yang dia punyai melainkan kelemahanya lah yang begitu mempercantik dia ketika aku memandanginya sebagai seorang wanita. Aku sadar bahwa dia adalah seorang wanita bar-bar ( kasar ) dimana sering kali dia memarahiku tanpa adanya sebuah batas kata apapun untuk mengungkap kemarahanya kepaku namun andaikan dia tahu bahwa terkadang ketika dia memarahiku mungkin yang tersirat di dalam hatiku hanyalah sebuah perasaan yang begitu hangat menyerbak menemani setiap kali jantung ini berdegup seolah jantung ini menari, berbahagia dengan betapa hangat dia menyayangiku, dimana sedikit kali aku tak pernah menyangka bahwa begitu indah cerita yang telah kami miliki ini berdua. Bersamanya, menikmati hari kian nampak seperti lautan bintang ketika di musim kemarau tiba dimana suatu ketika tiada awan yang bersayup menghalangi kecantikan bintang-bintang berkelip di sana hanya ada cahaya bulan yang terkadang beremang biru ataupun menguning seperti perona di pipinya yang dia kenakan tatkala kali pertama kami berdua bertemu di resepsi pernikahan Mas Pikal di kala malam itu.

Sampaikah apa yang terkias dalam tulisan buku ini untuknya? yang mungkin aku hanya berharap bahwa dia di hari esok menemui sebuah hari dimana dia kan tersenyum begitu bahagia seperti kala kami berdua meniti pagi, meniti setiap helai embun putih yang berjatuh di atas punggung rerumputan tepi jalan hingga sesampainya mentari mengintip menjadi akhir kami berjalan berdua di setiap hari minggu. Aku begitu ingin mengulanginya untuk sekali saja melihat dan mendengar dia tertawa dimana gema dari suara tawanya seolah memecah hening pagi di saat kami berdua berjalan dengan kaki telanjang menapaki setiap jengkal aspal hitam berdua, aku juga ingin mendengar dia bercerita tentang hal apa yang telah terjadi di setiap keseharianya kini dimana dahulu suaranya begitu memikat kedua telingaku di setiap kali aku mendengarkanya bercerita meski lewat via suara dan ketika setiap perkata itu menghiasiku dengan harmoninya aku ingin sedikit mengatakan kata aneh untuk dia disana hingga dia pun tertawa, hingga dia pun memarahiku, hingga dia pun mengataiku dengan kata kasarnya, betapa merindunya diriku dengan keseharianku bersamanya dahulu seperti ingin kembali menghampiri hari di semua saat itu benar-benar terjadi bersamanya.

Aku tak ingin memberati dia hanya karena ucapku disini dimana mungkin dia kan teringat dengan apa yang telah dilakukan kepadaku namun aku ingin dia mengingat satu hal aku tak pernah sedikitpun menyesali untuk menjadikan dia salah satu cita yang terkhayal indah ketika aku membayangkanya karena bagiku meski perpisahan kami berdua begitu menyakitkan namun sebelum perpisahan itu ada begitu banyak kenang manis saat yang telah kami rangkai berdua hingga pada akhirnya kenang manis itu hanya mampu ku simpan diantara lembar monokrom ingatanku dan terceritakan di atas lembar demi lembar kertas putih ini.
intermission

Tidak ada komentar:

Posting Komentar