Intermission
Buku
ini mungkin hanya sebuah persembahan untuk seseorang wanita yang begitu banyak membuatku
belajar mengenai dengan apa yang telah kita lalui berdua dan buku ini juga
sekaligus mewakiliku untuk mengucap sebuah kata perpisahan dimana menurutku
hanya inilah satu-satunya cara untukku mampu mengucap segala hal yang ingin ku
ungkapkan kepadanya yang mungkin aku melakukanya sedikit berlebihan bila aku
harus melukiskan segala apa yang ku rasai untuknya melalui sebuah tulisan lewat
segala kenangan kami berdua dimana ada beitu banyak momen yang sedikitpun tak mampu ku lukiskan melalui kata sederhana
hingga pada akhirnya aku pun menggunakan gaya bahasaku sendiri untuknya yang
mungkin sulit untuk memahami makna yang ada dalam setiap bahasaku namun biarlah
dia bertanya di dalam dirinya sendiri mengenai isyarat yang ada di dalam buku
ini, maupun biarlah dia mengerti tentang seberapa hebat dia telah menemaniku
selama 1,6 tahun. Dan diantara 1,6 tahun itu mungkin begitu banyak hal yang
terlupa hingga mungkin aku hanya mampu mengingat segala hal itu, hanya mampu
menyimpan begitu banyak kata di dalam hati yang ingin terucap namun tak
tersampai. Pada akhirnya aku hanya mampu mengingat tentang segala waktu yang
telah kami berdua lewati bersama, dan masih begitu banyak lagi namun bagiku
lewat sebuah buku ini menjadikanya sebuah penyampai dari apa yang tak tersampai
untuknya di keseharianku ketika kami berdua berpisah.
Dia
mungkin wanita yang beraneka ragam ( dari sifatnya, sikapnya, pemikiranya,
maupun ke egoisanya ), wanita yang penuh dengan teka-teki, satu-satunya wanita
yang membuatku begitu bingung harus mengungkap seperti apakah dia, namun taukah
dia?, jika senandung partiturnya selalu terdengar seindah kirana yang menemani
keseharianku ketika dia masih berada di sampingku dan dia selalu saja mampu
memukauku di setiap kali kami bertemu semenjak kami berdua memulai sebuah
scenario untuk panggung kecil yang kami berdua miliki hingga menjadi rangkai
tulisan seperti ini, saat kami berpapasan menghabiskan waktu berdua, saat tiada
waktu terlewatkan untuk saling menemani meski jarak membentang jauh untuk kami
berdua sekedar bertemu, ataupun saat dimana kami berdua saling memberi dengan
apa yang kami punyai, bagiku semua itu takkan mengubah bahwa dia tetaplah wanita
yang begitu menjengkelkan dengan sifat kekanak-kanakanya.
Dalam
sebuah proses penulisan buku ini sendiri terkadang aku seolah terhanyut
sendirian ketika memikirkan wanita sepertinya yang begitu anggun dengan sifat
kekanak-kanakanya begitu mewarnai keseharianku hingga pada akhirnya aku
berfikir bahwa akan sungguh sayang bila aku harus menggambarkan dia dengan kata
sederhana karena bagiku meski di ujung kami berpisah dia tak bersetia untuk
ke-2 kalinya namun bagiku apa yang telah terangkai berdua bersamanya membuat
tulisan ini bercampur aduk dimana keinginan kecil untuk tetap berdua merangkai
cerita ini berlanjut masih terasa seolah ada perasaan begitu berat bila ku
ingat kembali dia tak lagi di sampingku, untuk menemani kesekian hariku kembali
namun pada akhirnya ku yakini bahwa perasaanku yang masih ada untuknya hanyalah
sebuah ungkap yang ingin tersampai untuknya disana.
Mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya untuknya bahwa setiap hari
dan setiap waktu entah mengapa aku mampu begitu menyayanginya, begitu berbangga
menyanyangi wanita sepertinya bukan dari sebuah kecantikanya atau pun kelebihan
yang dia punyai melainkan kelemahanya lah yang begitu mempercantik dia ketika
aku memandanginya sebagai seorang wanita. Aku sadar bahwa dia adalah seorang
wanita bar-bar ( kasar ) dimana sering kali dia memarahiku tanpa adanya sebuah
batas kata apapun untuk mengungkap kemarahanya kepaku namun andaikan dia tahu
bahwa terkadang ketika dia memarahiku mungkin yang tersirat di dalam hatiku
hanyalah sebuah perasaan yang begitu hangat menyerbak menemani setiap kali
jantung ini berdegup seolah jantung ini menari, berbahagia dengan betapa hangat
dia menyayangiku, dimana sedikit kali aku tak pernah menyangka bahwa begitu
indah cerita yang telah kami miliki ini berdua. Bersamanya, menikmati hari kian
nampak seperti lautan bintang ketika di musim kemarau tiba dimana suatu ketika tiada
awan yang bersayup menghalangi kecantikan bintang-bintang berkelip di sana
hanya ada cahaya bulan yang terkadang beremang biru ataupun menguning seperti
perona di pipinya yang dia kenakan tatkala kali pertama kami berdua bertemu di
resepsi pernikahan Mas Pikal di kala malam itu.
Sampaikah apa yang terkias dalam tulisan buku ini untuknya? yang
mungkin aku hanya berharap bahwa dia di hari esok menemui sebuah hari dimana
dia kan tersenyum begitu bahagia seperti kala kami berdua meniti pagi, meniti
setiap helai embun putih yang berjatuh di atas punggung rerumputan tepi jalan
hingga sesampainya mentari mengintip menjadi akhir kami berjalan berdua di
setiap hari minggu. Aku begitu ingin mengulanginya untuk sekali saja melihat
dan mendengar dia tertawa dimana gema dari suara tawanya seolah memecah hening
pagi di saat kami berdua berjalan dengan kaki telanjang menapaki setiap jengkal
aspal hitam berdua, aku juga ingin mendengar dia bercerita tentang hal apa yang
telah terjadi di setiap keseharianya kini dimana dahulu suaranya begitu memikat
kedua telingaku di setiap kali aku mendengarkanya bercerita meski lewat via
suara dan ketika setiap perkata itu menghiasiku dengan harmoninya aku ingin
sedikit mengatakan kata aneh untuk dia disana hingga dia pun tertawa, hingga
dia pun memarahiku, hingga dia pun mengataiku dengan kata kasarnya, betapa merindunya
diriku dengan keseharianku bersamanya dahulu seperti ingin kembali menghampiri
hari di semua saat itu benar-benar terjadi bersamanya.
Aku tak ingin memberati dia hanya karena ucapku disini dimana mungkin
dia kan teringat dengan apa yang telah dilakukan kepadaku namun aku ingin dia
mengingat satu hal aku tak pernah sedikitpun menyesali untuk menjadikan dia
salah satu cita yang terkhayal indah ketika aku membayangkanya karena bagiku
meski perpisahan kami berdua begitu menyakitkan namun sebelum perpisahan itu
ada begitu banyak kenang manis saat yang telah kami rangkai berdua hingga pada
akhirnya kenang manis itu hanya mampu ku simpan diantara lembar monokrom
ingatanku dan terceritakan di atas lembar demi lembar kertas putih ini.
intermission

Tidak ada komentar:
Posting Komentar