Jumat, 09 Februari 2018


PROLOG

18 juni 2014. Ku ingat Di bawah teduhnya langit malam yang terlihat begitu muram hanya terlihat sepanjang awan kelabu menutupi remang bulan dan bintang-bintang yang bersemi menuai langit muram. Kala itu, aku, dia, samsul, dan yuni, menjadi 2 pasang kembang mayang yang sebelum malam resepsi pernikahan kala itu berlangsung, mungkin kami berempat telah di mintai tolong untuk menjadi kembang mayang. Aku yang telah menganggap bahwa mempelai pria kala itu adalah kakakku sendiri meski tiada hubungan darah, sebut saja pria itu bernama Andi. Namun bila ku ingat-ingat kembali, dia ( Andi ) selalu ada untuk menolongku di saat aku butuh pertolongan dan mungkin karena hanya hal inilah, sewaktu dia memintai tolong kepadaku untuk menjadi seorang kembang mayang di resepsi pernikahannya, tanpa berfikir dua kali aku pun mengiyakan permintaanya meskipun sebenarnya aku sedikit tak terbiasa menjadi seorang kembang mayang.

Di atas sebuah kursi panjang aku duduk berdua dengan safa di temani seorang anak perempuan kecil di samping kiri tempat kami duduk berdua, dan di sebelah kanan kami, hanya terlihat kedua mempelai yang terlihat begitu bahagia di bawah teduhnya langit malam yang bermuram diri.

Aku adalah orang yang sedikit tak menyukai untuk berbaur dengan orang baru yang akan kukenali apalagi ketika menjadi seorang kembang mayang, mungkin hanya karena alasan inilah aku sedikit menghindari untuk tak duduk berpasang bersama dia seorang wanita yang tak ku kenali sama sekali namun pada akhirnya aku begitu bersyukur ketika orang yang berpasangan denganku adalah yuni, seorang wanita yang telah ku kenali sudah cukup lama sedari aku SMP hingga selulusku dari SMA. Duduk berdua berpasang dengan yuni menjadikanya mungkin lebih menenangkan untukku ketika sejenak ku intip samsul yang duduk berdua bersama dia, aku hanya melihat kebisuan yang membalut kursi panjang dimana hanya cukup terisi oleh mereka berdua. Mungkin bila aku menjadi samsul, benar-benar membuatku kan merasa tak bernyaman diri seperti itu hingga sesaat setelah aku memperhatikan mereka berdua tanpa ku sadari aku melihat ada 3 kursi berwarna hijau yang terbuat dari plastik berada di depan sedikit menyamping dari tempat dudukku dan yuni, seolah ke-3 kursi itu menjadi salah satu persiapan mereka di resepsi pernihkahan Mas Andi di malam itu.

Tanpa sedikitpun adanya perasaan canggung terhadap yuni, aku pun memulai pembicaraan bersamanya dimana sebenarnya pembicaraan itu hanya untuk mencandainya dengan kata-kata kapan yuni akan menyusul atau pacarmu anak mana hanyalah sebuah kata penghibur untuk mengisi keheningan di antara kami hingga sesaat ketika beberapa senyuman yang terlihat dari yuni sedikit membuatku lupa diri untuk mencandainya namun bagiku hal ini begitu membuatku merasa nyaman untuk diriku sendiri meski sebenarnya yuni menurut pandanganku adalah sesosok pendiam, akan tetapi aku menghiraukan hal itu dimana aku berfikir akan lebih menyenangkan bila aku menghiaraukan hal yang membatasi untuk kami bisa saling mencandai satu sama lain meski lagu bergenre dangdut pun silih berganti dari judul 1 kejudul lainya terdengar dari sound system membuatku merasa tak nyaman saat mendengarkannya. Namun bersenda canda bersama yuni lah   satu-satunya hal yang membuatku merasa nyaman, meski sebenarnya aku pun berusaha tak menghiraukan lagu dangdut tersebut dan memalingkan sedikit ketidak nyamananku dengan melampiaskan candaku bersama yuni.  Diantara canda kami yang saling bersahutan, aku sedikit memperhatikan para tamu yang terlihat duduk di depan kami dimana tanpa ku sengajai aku melihat sedikit menyilaukan mata dengan bedak, lipstick, perona pipi, dan lain sebagainya mereka bertiga terlihat berjalan pelan melewati para undangan yang duduk di depan kami berdua yang menghadiri resepsi pernikahan Mas Andi dan kira pertamaku, mereka hanyalah tamu undangan norak dengan pakaian berlebih yang mereka kenakan namun ketika mereka terlihat terus berjalan menaiki kuade dengan tangga kecil menuju ke-3 kursi plastik di sampingku membuatku bertanya-tanya mengenai siapa mereka.

Untuk beberapa saat ketika mereka telah duduk di atas kursi plastik itu, aku memperhatikan mereka sejenak hingga pada akhirnya aku melihat mereka bersiap diri dan berdiri meninggalkan tas mereka terbengkalai di atas kursi plastik hijau di depanku, entah apa yang akan mereka lakukan aku hanya menanyakan semua itu kepada diriku sendiri hingga sewaktu mereka memegang mike, aku pada akhirnya mengerti dengan apa yang mereka bertiga lakukan bahwa mereka akan mengisi acara resepsi pernikahan Mas Andi dengan beberapa lagu dangdut secara live. Kali ini tentu saja membuatku benar-benar tak menyukainya mungkin bila ku tahu perincian acara resepsi pernihkahan Mas Andi kan seperti ini mungkin lebih baik aku tak menghadirinya dimana pada akhirnya aku tak mampu memposisikan diriku senyaman mungkin untuk menjadi salah satu kembang mayang bila ada acara seperti ini.

Hingga ketika persiapan mereka terlihat usai seketika mereka bertiga pun bernyanyi dan bersamaan dengan suara mereka terdengar yang dari sound system seketika aku pun menghela nafas panjang dengan perasaan ketidak nyamananku disaat aku mendengar mereka bersama-sama menyanyikan satu lagu bergenre dangdut secara bergantian yang mungkin satu lagu ini menjadi pembukaan dari penampilan mereka bertiga. Dengan rasa jenuh aku memperhatikan beberapa tamu yang datang satu persatu, tamu yang berdiam diri ataupun bercanda dengan temannya, dan masyarakat sekitar yang berdiri dari kejauhan ataupun di samping panggung kecil resepsi pernikahan, mereka semua hanya terlihat memandangi ke-3 wanita itu bernyanyi di atas panggung kecil seolah mereka semua begitu menikmati dengan apa yang ke-3 wanita itu nyanyikan kini bersenda canda dengan yuni tak lagi mampu menahan ketidak nyamananku saat ada ke-3 penyanyi itu di depanku menyanyikan genre lagu yang sama sekali tak ku senangi.

Mereka nyanyikan sebuah lagu itu bersama sebagai pembukaan dari penampilan mereka bertiga, kemudian mereka menyanyikan satu demi satu lagu secara bergiliran bersamaan dengan goyang tubuh mereka yang terlihat berlenggak lenggok di atas sebuah pentas kecil, mereka terlihat begitu menikmati lagu yang mereka bawakan dan apa yang mereka tontonkan itu seolah sudah terorganisir dengan begitu baik sebelum mereka tampil di depan umum seperti itu atau mungkin mereka sudah sedikit menuai pengalaman sebelum mereka tampil di atas pentas kecil seperti ini.

Meski aku tak begitu memperdulikan semua lagu atau pun mereka yang bernyanyi di sampingku, waktu terasa begitu berjalan lambat ketika aku mendengar mereka bernyanyin  hingga mereka telah bernyanyi satu persatu tiba-tiba saja mereka bertiga berhenti dan terlihat menduduki kembali kursi yang telah di siapkan untuk mereka bertiga di samping kanan kami, aku hanya merasa begitu lega  ketika mereka berhenti bernyanyi.

 “ Alhamdulillah, udah selesai “
ucapku dalam hati bersama senyuman kecil di raut wajahku

Lalu tak berselang lama saat mereka berhenti bernyanyi, terdengar seseorang yang bersuara lembut seperti wanita memanggilku dan yuni dari arah samping kiri kami.

“ Mas, Mbak! “ panggilnya untuk kami berdua

Seketika kami pun menoleh kearah panggilan tersebut dimana nyatanya yang memanggil kami berdua hanyalah seorang pria berpenampilan wanita.

“ Nanti waktu pengantinya turun untuk mengitari sesajen, kalian cukup mengikutinya saja ya” Imbuhnya

Aku hanya berdiam diri dan mengangguk sekali seolah aku benar mengerti dengan apa yang lelaki berpenampilan wanita itu katakan dimana sebenarnya aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.

 Tak butuh waktu berlama setelah aku mendengar arahan dari lelaki berpenampilan wanita itu yang menghampiriku dan yuni, sejenak aku melihat Mas Andi bersama istrinya yang secara tiba-tiba untuk mengitari sesajen seperti apa yang di kataka pria berpenampilan wanita itu katakan dan bersamaan dengan turunnya mereka berdua seketika membuatku bingung harus melakukan apa, seolah aku begitu takut membuat kesalahan yang mungkin merusak hari terpenting mereka, karena ini kali pertama untukku ketika menjadi seorang kembang mayang seperti ini namun untungnya ada yuni yang terlihat mengerti hingga pada akhirnya dia mengarahkanku untuk segera bergegas berjalan di belakang istrinya Mas Andi. Perasaan gugup yang menyerui pikiranku aku hanya berfikir mengikuti mereka berdua untuk mengitari sesajen itu selama 3 kali dan sesaat setelah ritual itu berakhir aku hanya berjalan melihati arah bawah melihat wanita dengan rok yang di sebut sewek berjalan di depanku tanpa melihat arah yang ku tuju dan tiba-tiba saja ketika wanita di depanku duduk aku juga ikut duduk namun hingga sesaat aku menduduki kursi akhirnya aku mengerti bahwa  tempat yang ku duduki bukanlah tempat duduk pertama kalinya dimana seharusnya aku berada. Dimana seharusnya aku duduk di samping kiri pengantin,  ternyata aku berada di samping kanan dan seketika aku melihat pasanganku ( yuni ). Seketika aku merasa begitu malu, karena pasanganku yang seharusnya yuni berubah menjadi dia yang berada disampingku dimana sebelumnya menjadi pasangan samsul. Pada akhirnya aku pun menoleh ke arah kiriku dan memanggil samsul sesaat, hingga samsul melihat, aku meminta maaf kepadannya dengan bahasa isyarat namun setelah aku meminta maaf kepada samsul,  aku melihat yuni untuk meminta maaf juga kepadannya namun di saat aku melihatnya senyuman kecil yang terlihat di wajahnya seolah begitu mengolokiku tentang kesalahan konyol yang ku perbuat.

Aku hanya berdiam diri ketika melihat senyuman kecil  yang mengurungkanku untuk meminta maaf juga kepada yuni, karena aku merasa begitu malu dengan kesalahan konyolku untuknya dan karena insiden kecil ini. Aku dan dia  pada akhirnya pun terpaksa untuk duduk berpasangan di atas sebuah kursi panjang yang hanya cukup terisi oleh aku dan dia, perasaan gugup yang ku alami terasa begitu canggungnya meski sekedar untuk ucapkan sepatah kata untuk meminta maaf juga kepadanya. Pada awalnya aku merasa tak menyukai bila harus duduk berdua bersamanya mungkin karena aku tak mengenalnya atau dia yang juga sebaliknya hingga kami berdua pun hanya duduk berdiam diri satu sama lain seolah kami berdua terlihat begitu bermesrah diri dengan kecanggungan yang terasa di antara kami berdua.

Sesekali aku pun melihatnya untuk utarakan kata maaf dan mungkin ucapkan beberapa pertanyaan untuk memecah keheningan kami berdua namun ketika aku melihat riasan di wajahnya yang terlihat berlebih juga pelembab bibir yang dia kenakan terlihat sedikit mempercantik dia dengan tambahan perona di pipinya hingga membuatku begitu canggung ketika memulai pertanyaanku  untuknya dan sesaat aku pun berdiam diri, memikirkan kata pertama yang tepat untuk memulai dari mana terlebih dahulu memulai pembicaraan kami berdua namun pada akhirnya aku tak mengerti kata apa yang tepat untuk memecah keheningan kami berdua ketika hanya kesalahan konyol yang ku lakukan adalah satu-satunya yang mampu terfikirkan olehku dan aku pun juga berfikir mungkin bila tiba-tiba menanyakan sesuatu hal kepadanya mungkin dia akan menganggapku sebagai seorang yang sok kenal atau pun orang sok akrab dan bahkan mungkin aku juga kan terihat sebagai laki-laki yang menggodainya bila mengingat dimana kota ini kebanyakan laki-laki begitu menyukai saat menggodai wanita jika aku utarakan beberapa pertanyaan untuknya, dari orang yang tak dia kenali.

Di antara aku memikirkan semua itu ketiga penyanyi yang sebelumnya begitu terlihat cantik bila mereka hanya berdiam diri di atas ketiga kursi yang mereka duduki tanpa harus melanjutkan untuk mengisi acara dengan nyanyian mereka, kini pun ketiga penyanyi itu terlihat berdiri kembali dan bersiap diri untuk nyanyikan beberapa lagu kembali sesaat setelah ritual yang kami berempat lakukan telah usai. Pada akhirnya hanya ada kejenuhan yang terasai olehku ketika aku mendengar mereka bertiga bernyanyi kembali dimana apa yang mereka nyanyikan hanya membuatku begitu tak nyaman mendengar lagu yang mereka nyanyikan namun ketika aku menoleh ke arah kananku, seketika perasaan jenuh itu berubah menjadi senyuman kecil ketika disana aku melihat seorang anak perempuan kecil yang juga diriasi berlebih duduk menyendiri dengan tubuh mungilnya, ekspresi canggunggunya atau pipi tembem yang di milikinya, anak perempuan kecil terlihat begitu menggemaskan ketika aku melihatnya, dan bersamaan ketika mata ini menatap anak perempuan kecil itu fikiran-fikiran jail dari salah satu sifatku pun berlintas diri, menggodaiku untuk menjailinya.

“woi! Woi!” sambil menjawil pundak kecilnya

Anak perempuan kecil itu menoleh dan menatapku

Aku tersenyum sambil membuat wajahku seaneh mungkin terlihat olehnya, alisku yang ku naik turunkan dengan cepat bersamaan dengan jari telunjuk tangan kiriku mengorek-orek upil.

Anak perempuan kecil itu hanya berdiam diri dengan wajahnya tanpa terlihat sedikit ekspresi di wajahnya. Meski telah ku buat wajahku seaneh mungkin untuk terlihat olehnya dia melihatku tanpa sebuah ekspresi apapun seolah anak perempuan kecil itu tak peduli denganku dan mengganggap apa yang ku lakukan hanyalah tindakan bodoh yang tak penting untuk melihatnya dan pada akhirnya anak perempuan kecil itu memalingkan wajahnya untuk tak melihatku.

Perasaan semangatku yang timbul dari kecuekannya saat aku menjailinya pertama kali semakin membuatku ingin melakukan kejailan-kejailanku kepadanya mungkin hanya karena salah satu sifatku ini sudah mendarah daging untuk diriku sendiri.

Beberapa saat setelah dia memalingkan wajahnya dariku pada akhirnya aku pun memnanggilnya kembali, tanpa suara untuk aku memanggilnya, aku menjawil pundak kecilnya kembali itu untuk kedua kali dan seketika dia pun menoleh.

Aku pun hanya mengulangi apa yang ku lakukan kepadanya seperti di awal kali aku melakukanya, tak seperti pertama kali saat aku menjailinya, kali ini anak perempuan kecil  itu meski masih melihatku dengan muka tanpa ekspresinya namun dari caranya memalingkan wajahnya yang sedikit lebih cepat bila ku bandingkan dari pertama kali saat dia memalingkan wajahnya dariku membuatku sejenak hentikan kejailanku untuk memperhatikannya, bagaimana anak perempuan kecil itu duduk, ekspresinya yang terlihat bertambah canggung, ataupun gerak gerik tubuhnya yang anak perempuan kecil itu tunjukan kepadaku begitu memperlihatkan bahwa anak kecil itu begitu tak nyaman dengan kejailanku yang ku lakukan kepadannya.

Seketika senyuman yang terlihat di wajahku saat memperhatikannya seolah begitu tunjukan bahwa aku begitu menyukai saat dimana korban kejailanku merasa tak nyaman seperti anak perempuan kecil itu tunjukan namun perasaan kurang puas untuk menjailinnya begitu terasa hingga sesaat aku berdiam diri dan memikirkan tingkah kejailanku untuk terealisasikan kepada anak perempuan kecil itu, lalu aku pun mengingat bagaimana caranya ulat keket berjalan yang ku tonton dari channel nat geo wild di sore hari. Dengan ingatan itu seketika aku bereksperimen dengan jari kelingking tangan kananku, memanjang dan memendek gerak gerik yang terlihat dari jari kelingking tangan kananku, meski tak semirip aslinya namun bagiku gerak jari kelingkingku itu sudah sedikit menggelikan untuk ku tunjukan kepada anak perempuan kecil itu karena aku saja sedikit geli saat melihatnya dan sdikitpun tak menyangka bahwa jari kelingkingku bisa nampak menggelikan seperti ini. Tanpa jawilan atau pun panggilan untuk anak kecil itu menoleh kepadaku, ku dekatkan tangan kananku bersamaan dengan jari kelingkingku yang bergerak memanjang-memendek ke arah wajahnya dan ketika jari kelingkingku terlihat olehnya, seketika anak perempuan kecil itu pun menghindarinya seolah anak kecil itu terlihat begitu jijik saat melihat jari kelingkingku bergerak memanjang-memendek seperti itu yang terus semakin mendekatinya. Aku pun hanya tersenyum di saat melihat raut wajahnya yang terlihat semakin menggemaskan dengan ekspresi jijiknya terhadap jari kelingku dan aku pun begitu menikmati saat dimana aku melihat wajah anak perempuan kecil itu semakin menggemaskan, terus, terus, dan terus jari kelingkingku mendekatinya wajah anak perempuan kecil itu semakin terlihat menggemaskan bersamaan dengan jari kelingkingku mendekatinya

 “ Suka yang kecil ta mas? ”

Seketika aku menoleh ke arah dimana suara itu terdengar

Suaranya yang terdengar diantara bisingnya lagu dangdut yang masih di nyanyikan ketiga penyanyi di malam itu begitu mengagetkanku juga menggangguiku dari saat-saat betapa menyenangkannya aku menjaili anak perempuan kecil disamping kananku

   Wwoooohhh…….. ya enggak lah! Ngelihat anak kecil ini loh nggemesin banget jadi ngebikin gatal pengen ngejailin dia, sini lihato juga kalo kamu gak percaya! ”

Seketika pula aku membantah dengan apa yang dia katakan kepadaku dimana apa yang dia katakan sungguh mengataiku sebagai seorang pedofil/lolicon

Namun dia hanya diam seolah ingin melihat dengan apa yang ku katakan kepadanya

Setelah aku berkata seperti itu kepadanya, aku pun menggerakkan jari kelingkingku mendekati anak perempuan kecil disampingku kembali dan ketika di saat anak perempuan itu melihat jari kelingkingku seperti itu kembali, seketika dia pun terlihat menghindari jari kelingkingku bersama dengan ekspresinya terlihat jijik yang begitu membuatnya nampak sungguh menggemaskan ketika anak perempuan kecil itu menghindari jari kelingkingku, hingga ketika kurasai sudah cukup untuk menunjukkan kepadanya pada akhirnya ku hentikan sejenak dan melihat dia yang menyatakan diriku sebagai seorang pedofil.

“ Gimana? Kelihatan nggemesin banget kan? ” tanyaku dengan sedikit kegirangan mengingat ekspresi anak perempuan kecil itu terlihat begitu menggemaskan

“ Iya sih mas, tapi kelihatan takut anaknya Jadi kasihan aku ngelihat anak itu mas ”

“ Disitulah letak betapa menyenangkanya saat menjaili, sini tak ajarin! ”

Sejenak ku gerakkan kembali jari kelingking tangan kananku sama seperti saat aku menjaili anak perempuan kecil itu untuknya dan dia yang terlihat memperhatikan jari kelingkingku saat itu.

   Gimana? Sekarang cobao! ”

Dengan jari kelingkingnya yang terlihat kurus memanjang, hanya ada seorang wanita yang terlihat serius menggerakkan jari kelingkingnya, seolah dia begitu serius dengan jari kelingkingnya yang dia  punyai untuk bisa melakukannya namun meskipun dia telah berusaha agar bisa melakukannya, hanya saja gerak jari kelingking bergerak perpatah-patah dengan betapa kaku jari kelingkingnya untuk menirukan gerak jari kelingkingku hingga bagiku hanya ada sebuah kata aneh saat aku melihatnya dan seketika aku pun tersenyum sedikit menahan gelagak tawaku di dalam hati.

“ gak bisa mas! ” nada suara yang terdengar dengan sedikit mengeluh

Aku menggerakkan kembali jari kelingkingku, sambil menjelaskan beberapa poin-poin penting untuk dia bisa melakukannya meski sebenarnya aku ingin menlihat jari kelingkingnya bergerak berbengkak-bengkok kaku seperti sebelumnya.

“udah paham kan?” aku tersenyum meyakinkanya

Dia mengangguk seolah memahami dengan apa yang ku jelaskan kepadanya

“ Nha….sekarang cobao lagi! ” imbuhku

Dia terlihat mencobanya kembali dengan penuh kegigihan agar bisa melakukannya namun pada akhirnya meski tetap ku jelaskan bagaimana caranya, jari kelingkingnya tetap saja terlihat bergerak membengkak bengkok seperti cacing kepanasan dimana seketika saja jari kelingkingnya membuatku tersenyum kembali untuk menertawakannya, mungkin ini yang bisa di sebut dengan takdir dimana meskipun telah berusaha sekeras mungkin namun tetap tak bisa melakukanya.

“ Hhhuuhhhhh…… tetap gak bisa loh mas! “ suaranya terdengar bertambah mengeluh kepadaku

 “ Berarti kamu gak bakat wes ngejailin orang kalo begitu ”

Sebenarnya sih aku pengen ya, mengibur dia dengan ucapan motivasi gitu biar dia bisa semangat lagi buat nyoba sekali lagi ya meskipun ujung-ujungnya niatku buat ngetawain dia juga sih namun pada akhirnya, aku hanya memberhentikan pemikiran itu untuknya.

“ Emang aku anaknya pendiem mas, jadi gak cocok buat ngejailin orang ” sambil tersenyum

Sepintas apa yang ku lihat di wajahnya hanyalah senyuman malu-malu dari seorang wanita biasa namun ketika aku memperhatikan wajahnya secara seksama, disana aku juga melihat ada rasa sedikit berbangga diri dengan apa yang kau katakan. seolah dia patut berbangga dengan ap yang dikatakannya di malam itu yang sejenak membuatku berjengkel diri kepadanya.

Mungkin inilah kali pertama dia membuatku begitu jengkel dengan apa yang dia katakan kepadaku dimana sering kali dia hanya tak mengetahui seberapa menjengkelkanya dia menemaniku.

Sedari momen kecil itu nuansa hening yang terasa menyelimuti kami berdua di atas sebuah kursi panjang sebelumnya pada akhirnya memudar perlahan-lahan ketika senyuman kami bedua hanya saling bersahutan satu sama lain dimana kejailanku nyatanya menjadi sebuah pembuka di antara canda demi canda yang kami lantunkan berdua di malam itu namun di sela-sela betapa menyenangkannya canda kami berdua di saat itu aku sempat berfikir mungkin seharusnya aku meminta maaf atas kesalahan konyol yang ku perbuat dan segera menanyakan beberapa hal kepadanya untuk sekedar memecah keheningan kami berdua di awal kali aku melakukan kesalahan sekonyol ini.

Cerita demi cerita yang kami berdua lantunkan pada akhirnya membawa beberapa senyuman kecil kami berdua saling bersahutan yang telah berpintas diri menghiasi teduhnya langit yang terlihat bermuram diri hingga senyum yang bersahutan itu menjadi sebuah penghangat kecil bermakna dimana menjadi satu-satunya makna di awal kali kami berdua bertemu dari seberapa indah sebuah kenang indah kan tercipta di kemudian hari bersama.

Tiba ketika dia bercerita di sampingku, aku hanya mendengarkan dia bercerita disampingku meski bising lagu dangdut bercengkrama penat terdengar olehku namun sesaat yang terlihat hanyalah seorang wanita yang begitu antusiasnya menceritakan kesehariannya sebelum kami berdua bertemu di atas sebuah kursi panjang itu.

 Untuk sejenak aku melihat beberapa tamu undangan yang hadir di resepsi pernikahan Mas Andi yang duduk didepan kami berdua namun tiba-tiba saja aku melihat seorang wanita yang begitu terspesial di hidupku berjalan di antara para tamu undangan dan langkah pelannya membawa seorang wanita itu ke arah dimana aku duduk berdua bersamanya yang masih terdengar bercerita mengenai beberapa kejadian lucu di kehidupanya.

“ ibu foto yo le ” kata ibuku sesampainya didepanku

Ketika aku mendengar pinta ibuku, sejenak membuatku tak tau harus bagaimana untuk menjawabnya meski rasa ingin untuk punyai kenangan bersamanya di malam itu sedikit menguat dimana mungkin ketika hari esok menjelang kami berdua tak lagi bertemu dan menghabiskan waktu seperti di malam ini, karena aku mungkin takkan meminta hal lebih untuk seseorang wanita yang tak pernah ku kenali sama sekali namun aku juga harus mengesampingkan keinginanku itu hingga sejenak aku pun akhirnya menoleh kepadanya yang berhenti bercerita bersamaan dengan datangnya ibuku.

“ Gimana? Kamu mau apa enggak kita berdua di foto sama ibuku? ” tanyaku untuknya yang terdengar sedikit ragu menanyai hal itu kepadanya

  Iya wes mas ” dia menjawabnya dengan nada yang sedikit kecil seolah dia terlihat malu dengan ibuku di saat itu.

“ Iya wes bu ” sambil mengangguk

Seketika ibuku pun terlihat mengeluarkan ponsel dari dompet hitam yang dia bawa dan tak lama setelah ibuku mengeluarkan ponselnya dia terlihat memencet beberapa tombol yang mungkin untuk membuka kunci ponselnya ataupun membuka fitur kamera, beberapa langkah kecil berjalan kearah depan yang terlihat setelah ibuku memencet beberapa tombol itu mungkin hanya menyesuaikan jarak antara kamera ponselnya dengan kami berdua yang menjadi objek foto dari ponsel ibuku.

“ Cekrek ” bunyi dari ponsel ibuku setelah memfoto

Ibuku terlihat memperhatikan hasil dari fotonya yang terambil dari kami berdua namun ibuku terlihat kembali memfoto kami berdua di tempat yang sama

“ cekrek ” bunyi kedua dari ponsel ibuku

Ibuku kembali memperhatikan layar ponselnya sesaat setelah dia memfoto kami berdua seolah ibuku memperhatikan hasil foto ke-dua yang terambil dari kami namun kali ini ibuku hanya terlihat sedikit berdiam memperhatikan ponselnya hingga ketika dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam dompet hitam, aku hanya mengira bahwa mungkin ibuku sudah merasa sedikit puas dengan hasil yang telah ibuku dapatkan.

“ Ibu tinggal dulu yo le? ” pamitnya

“ Enggeh pun buk ” sambil mengangguk

Tak berselang lama setelah ibuku mendengar jawabku ibuku terlihat berjalan pelan menjauhi kami, nuansa hening yang sesaat terasa bersamanya setelah ibuku memfoto kami berdua sedikit membuatku canggung dan entah aku harus berkata apa kepadanya yang juga terlihat canggung untuk sejenak saja membuka keheningan kami berdua.

“ malu aku tadi mas sama ibumu ”

Suaranya yang terdengar memecah kembali keheningan kami berdua namun dari kata yang terdengar olehku justru menambah kecanggunganku kepadanya lalu untuk sesaat aku berfikir mungkin aku telah merusak kenyamanan bersenda canda kami berdua di malam itu

  Maaf ya, aku juga gak ngerti kalo ibuku datang tiba-tiba buat ngefoto kita berdua 

“Iya mas, gak apa-apa. Aku cuman sedikit kaget aja sih mas kalo ibumu tiba-tiba datang kayak gitu terus ngefoto kita berdua ”

Aku hanya berdiam diri setelah aku mendengar kata yang terdengar sedikit kesal darinya sambil merasa tidak enak kepadanya, dengan perasaan tidak enak itu aku mencoba memberanikan diriku untuk ucapkan beberapa kata yang mungkin bisa memalingkan pembicaraan canggung kami berdua namun sesaat ketika aku melihatnya yang terlihat hanyalah hela nafas panjangnya, entah dia mengambil nafas panjang itu untuk menyabarkan dirinya atau untuk menenangkan dirinya namun nafas panjang itu membuatku mengurung niatanku untuk berkata beberapa hal kepadanya mungkin karena aku berfikir bahwa nafas panjang itu adalah luapan kesalnya tentang kejadian yang belum lama terjadi.

“ apa sih mas, ngelihatin aku sampai segitunya? ”

Sebuah tanya yang terdengar olehku membuatku sedikit terkejut, hingga ketika aku tersadar aku telah menatapi dia sedikit lebih berlama hanya terfikirkan mengenai sebuah perasaan canggungku untuknya dimana hanya ada sebuah perasaan bersalah membelengguku untuk ucapkan beberapa hal yang mungkin saja menjadikan sebuah awal baru untuk kami bersenda kembali.

 “ Aku cuman ngerasa gak enak aja sama kamu? ”

Pada akhirnya aku pun mengungkapkan secara tak langsung kepadanya dan untuk sesaat aku merasa begitu bodoh dengan apa yang telah ku katakan kepadanya yang mungkin saja apa yang ku katakan itu merusak kembali nuansa kami berdua untuk bersenda kembali namun sesaat ketika mata ini memandinginya dia hanya berdiam sesaat, lalu dia melihatku dan memberi sebuah senyuman kecilnya yang terlihat hangat diwajahnya sedikit menenangkanku dari derai canggungku untuknya kala itu.

 “ Santai aja wes mas, lagian aku juga bilang gak apa-apa kan? Itu tandanya aku udah maafin”

Sekali lagi dia memberi senyuman kecil untukku

“ Iya, tapi kan? ”

“ Iya mas, gak apa-apa kok ” dia kembali tersenyum seolah ingin meyakinkanku dengan senyumnya

Hanya ada sebuah perasaan yang begitu lega berteduh diantara detak jantungku ketika sebuah senyuman demi senyumanya begitu menenangkanku dari betapa canggungnya diri ini ketika sebuah rasa malunya membingungkanku dengan sebuah perasaan bersalah yang seketika menghadiri sesaat dia mengatakanya, entah benar atau tidakkah dia telah memaafkanku namun bagiku sudah cukup untuk meneruskan betapa canggungnya rasa bersalahku kepadanya hingga tak berselang lama ketika dia telah meyakinkanku hanya ada sebuah senda canda yang mampu menyelimuti awal kali kami berdua di malam itu. senyuman yang saling berias di antara wajah kami berdua menjadikanya sepotong bait kirana meski malam terlihat bermuram diri, meski lagu dangdut begitu penat terdengar olehku, meski seberapa banyak orang yang memperhatikan kami berdua, tiada satupun yang mampu ku pedulikan di mana hanya ada sebuah sayunya pertemuan ini yang akan membawa kami berdua untuk mengenali satu sama lain.

Begitu nyaman sebuah senda canda kami berdua yang ku rasakan untuk diriku sendirihingga ketika sesaat aku memalingkan wajahku aku tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang datang dari arah kananku hingga bersamaan dengan kedatanganya anak perempuan kecil yang menjadi sebuah korban teraniaya dari sifat kejailanku, seorang korban pembuka dari betapa hangatnya malam kali kami berdua pada akhirnya berundur diri dan menghakhiri tugasnya di malam resepsi pernikahan Mas Andi.

“Jam berapa ini?” tanyaku dalam hati sambil melihat langit muram dari posisi dudukku

Sebuah ponsel kecil yang ku selipkan di antara lipatan sewek yang ku kenakan menjadi sebuah pelampiasan dari keinginin tahuanku mengenai waktu kala itu, dimana disana hanya ada sebuah angka yang mungkin aku sedikit berharap bahwa angka disana sedikit melambat dan menghabiskan kehangatan dari senda kami berdua sedikit lebih berlama lagi hingga ketika di saat kami berdua akhiri pertemuan ini tiada satupun alasan untuk memberatkan diriku ketika di hari esok mungkin kami berdua tak lagi bertemu.

Aku kembali melamun untuk beberapa saat ketika aku melihat waktu di depan layar ponselku , melamuni tentang sebuah keinginin tahuanku tentang seutas nama dari seorng wanita disampingku dimana sebenarnya pertanyaan ini mungkin telah tersimpan rapat sedari awal kami berdua bersenda canda namun meski aku begitu ingin tahu, pada akhirnya aku hanya selalu menahan keinginan itu hanya karena tertahan sebuah pemikiran takut bahwa mungkin dia kan menganggapku sebagai seorang pria yang menggodainya dan mempunyai sebuah maksud tersendiri ketika aku telah mengetahui seutas namanya.

“ Mas! ”

Panggilnya yang memecah keheningan di antara lamunanku sesaat ketika aku melihat layar ponselku

“ ya, kenapa? ”

“ Kamu bawa hp mas? ”

“ Iya, lah ini! ” sambil menunjukkan ponselku kepadannya

“ Lah, ponselmu kok hampir mirip ya sama punyaku mas, tapi punyaku warna biru mas? ”

“ Loh iya ta? ” tanyaku sambil pura-pura terkejut

“ Iya mas ”

Sejenak nuansa hening menyelimuti kami berdua kembali, entah apa yang harus ku tanyakan lagi kepadannya yang hanya terlihat berdiam dan memalingkan wajahnya dariku hingga sesaat ketika melihatku kembali,

“ aku boleh minta nomor ponselnya kamu gak mas? ”

Hanya ada perasaan gugupnya yang terdengar samar di antara nada ucap katanya untukku di saat itu

 “ iya boleh, Buat apa emang? ”

“ Buat temenan lah mas! ”

Suaranya yang terdengar berlantang semakin menunjukkan bahwa dia bertambah gugup dengan apa yang ku tanyai kepadanya.

“ Iya wes, nanti setelah turun dari sini ya? ”

“ Iya mas ”

Dia hanya berdiam diri sejenak seusai pembicaraan kami berdua, seolah di antara hening itu dia mencari celah untuk sedikit saja menyelipkan sebuah kata penghapus dari betapa canggungnya beberapa kata yang tersampai untukku, hingga ketika aku menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya, menjadikanya sebuah pembuka dari betapa nyamannya bersenda canda bersamanya yang seakan kehangatan dari senda canda kami berdua menjadi riasan kecil di bawah teduhnya langit yang terlihat bermuram diri di malam itu, bagiku kata hanyalah kata yang saling berlantun terdengar untuk mengungkap isi hati hingga ketika riasan perona di pipinya terlihat begitu sayu menyemai wajahnya,  menyemai setiap Senyumannya yang terlihat begitu hangat mengisi ataupun lembut nada suaranya yang sesekali terdengar memecah keheningan kami berdua.

Hingga suatu ketika seorang pria yang bersuara wanita tiba-tiba mendatangi kami berdua dari arah sebelah kanan, bila ku ingat seorang pria itu adalah orang yang sama ketika memberitahuku untuk mengitari sesajen bebapa jam lalu sebelum kesalahan konyolku.

 “Mas, mbak, kalian sudah boleh turun! “ ucapnya

“ oh, iya mas! ” jawabku kebingungan memanggil apa kepadanya

Setelah pria bersuara wanita itu memeberitahu kami berdua, pria itu bergegas menuju samsul dan yuni yang berada di samping kiri kami berdua.

Dia berjalan mendahuluiku yang terlihat sedikit kesusahan dengan ketatnya rok sewek yang dia kenakan, namun setelah dia menuruni beberapa anak tangga, langkah demi langkah pelan yang ku perhatikan darinya hanyalah langkah yang terlihat tiada anggun-anggunnya sama sekali, hingga setiba kami berdua di sebuah lorong samping kiri rumah istri Mas Andi hanya ada sebuah meja kayu berwarna hijau membentang sedikit lebar lengkap dengan dengan beberapa kursi menemaninya. Pada akhirnya kami berdua berhentikan langkah kami disana sejenak untuk merehatkan letihnya tubuh kami sesaat semuanya telah usai, beberapa ucap kata sesaat setelah kami berduduk di atas sebuah kursi menjadi sebuah anti-klimaks dari sebuah cerita di kali pertamanya pertemuan kami berdua di malam itu. perasan legaku hanyalah sebuah campuran manis dari seberapa pahitnya keinginanku untuk sedikit lagi berlama denganya, sedikit lama lagi untuk melihat senyumanya, menginat bahwa kehangatan sebuah senda canda di antara kami berdua pun sebentar lagi kan hilang bersama berlarutnya malam merajuk dengan kesunyianya hingga ketika beberapa saat kemudian samsul dan yuni yang sudah turun mereka pada akhirnya ikut bergabung untuk merehatkan tubuh mereka sejenak namun dia terlihat menghampiri yuni saat itu.

“ mas tungguin bentar ya, aku tak ngambil ponselku di dalam “

“ okee “

“ Waduh kelihatannya kamu mesrah gitu sama Nagisa ( dia ) , Dan!” samsul menggodaiku dengan ekspresi wajahnya tersenyum

Mungkin sepintas apa yang di katakan samsul membuatku seketika mengerti bahwa seorang wanita yang duduk berdua denganku sebelumnya bernama Nagisa, nama yang tak asing terdengar olehku namun pada akhirnya aku hanya mampu menebak dan tak mengetahuinya sama sekali.

 “ Oooohhh,,,,, jadi wanita tadi itu namannya Nagisa? ” ucapku sok mengerti

“ Lah kamu gak paham nagisa itu siapa dan? ” sedikit mendesak untuk mengingat nama itu

Aku kembali berfikir untuk mengingat nama tak asing itu kembali seolah apa yang di ucapkan dengan samsul disaat itu sedikit membantuku untuk mengingat nama tak asing itu namun aku tetap saja tak mengetahuinya.

“ Engga sul, Nagisa itu memangnya siapa sih sul? ”

“ Lah dia kan adiknya Mas gilang dan, masa kamu gak tau? ”

Sebuah ucapan samsul mengenai nama Mas gilang seketika membuatku mengingat tentang seorang gadis kecil yang dulu pernah ku temui namun aku juga terkejut seiring seberapa lamanya aku tak bertemu denganya sudah menjadi seorang wanita sepertinya.

“ Lah masa sih rip? ”

“ leh, kamu di bilangin gak percaya, tanyao sendiri sama anaknya wes dan kalo kamu gak masih percaya! ”

Aku hanya berdiam melamun diterpa seribu pertanyaan mengenai seorang gadis kecil yang ku temui dahulu hingga seiring dia tumbuh aku tak mengetahuinya sama sekali, meski samar teringat ketika aku bertemu dengan gadis kecil itu mungkin sewaktu aku duduk di kelas 2 SMP dan sejenak bila ku bandingkan dengan wanita yang duduk di sampingku sungguh membuatku tak mempercayai sama sekali dengan apa yang di ucapkan samsul, hingga sesaat ketika wanita itu berjalan melalui pintu keluar bersama yuni,

“ Ya? kamu beneran a kalo kamu adiknya mas gilang? ” mempertegas ketidak percayaanku

“ Lah kamu gak paham ta mas? ” dia terkejut dengan apa yang ku tanyakan sambil berjalan ke arah kursi yang berlawanan dengan tempat dudukku bersama samsul.

“ hah,, masa sih? ” aku memandingtinya dengan ekspresi penuh ketidak percayaan.

“ loh iya mas ” meyakinkanku dengan nada yang sedikit keras

Sebuah senyuman kecil yang ku lihat berias di wajah yubi hanya sebuah senyuman untuk mensenyumi pertanyaanku tentangnya dimana aku sedikit sulit untuk mempercayai bahwa dia adalah adiknya Mas Gilang. Aku hanya begitu heran dengan apa yang ku lihat jika aku mengingat dan membandingkan kali kami bertemu dulu denganya yang sekecil itu tiba-tiba saja sudah sebesar ini, jika aku perumpamakan mungkin seolah aku melihat pertumbuhan ayam potong dimana sedari kecil dan menunggu 1 bulan kurang tiba-tiba aja udah segede gini.

Aku hanya berdiam diri menatapnya dengan begitu banyaknya pertanyaan yang mungkin sudah terjawab namun aku begitu sulit menerima bahwa apa yang ku lihat kini memang benar adanya.

“ Mas!, jadi apa engga? ”

“ oh iya sampai lupa, hehe ”

“ ya udah cataten di ponselmu, 085 607…. ”

“ iya mas makasih ya mas ” dia mensenyumiku kembali

“ cciiyyeeeee, cciiyyeeeee ” ucap yuni untuk kami berdua

“ apa sih yun? ” jawabku

“ engga apa-apa sih dan ” dia hanya tersenyum sambil meliriknya

Sebuah Senda canda yang kami lantunkan berempat di malam itu seakan menjadi pengahangat sebelum kami berempat berpisah adalah sebuah penyingkat sederhana dari waktu yang telah terlampaui bersama-sama disana hingga di waktu yang tak terasa, malam semakin berlarut diri hingga ketika aku melihat yuni dan dia berdiri terlebih dahulu menjadikanya sebuah isyarat dari awal kali pertemuanku denganya.

“ kami duluan ya ” ucap yuni untukku dan samsul

 “ iya yun! ” jawabku

Hingga beberapa saat setelah mereka berdua telah memasuki rumah, aku dan samsul beranjak untuk segera mengganti pakaian kami berdua, di sebuah kamar kecil yang menjadi tempatku dan samsul berganti pakaian sebelumnya sepatah kata yang berlantun dari samsul untukku terdengar sedikit bergema mengisi ruangan kecil itu sesaat kami berganti pakian.

“ sebenarnya aku yang harusnya duduk berdua sama Nagisa dan! “ ucap samsul yang sedikit menyelaku.

“ hahaha, maaf sul. Aku juga gak tau kenapa aku bisa ngelakuin kesalahan konyol seperti itu tapi ya gimana lagi sul “

“ oalah “ sambil menghela nafas panjang

Aku hanya berdiam diri merasa begitu canggung harus mengatakan hal lain kepada samsul., hingga pada akhirnya kami pun hanya berkonsentreasi dengan pergantian pakian kami kala itu.

Sesaat kami telah usai mengganti pakaian, aku dan samsul beranjak keluar dari rumah istrinya Mas Andi dan disaat aku berada di samping pentas kecil aku hanya menengok kanan dan kiri hanya sedikit berharap ku kan mampu bertemu denganya sekali lagi, mengucap kata perpisahan sebagai persembahan untuk akhiri hari kami bertemu kala itu. Akan tetapi, sejauh mata ini memandangi yang terlihat hanyalah beberapa wanita yang berjalan untuk undur diri dari resepsi pernikahan Mas Andi di malam itu.

“ sul, aku tak duluan ya ? “

“ iya dan, hati-hati “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar