PROLOG
18 juni 2014. Ku ingat Di bawah teduhnya
langit malam yang terlihat begitu muram hanya terlihat sepanjang awan kelabu
menutupi remang bulan dan bintang-bintang yang bersemi menuai langit muram. Kala
itu, aku, dia, samsul, dan yuni, menjadi 2 pasang kembang mayang yang sebelum
malam resepsi pernikahan kala itu berlangsung, mungkin kami berempat telah di
mintai tolong untuk menjadi kembang mayang. Aku yang telah menganggap bahwa
mempelai pria kala itu adalah kakakku sendiri meski tiada hubungan darah, sebut
saja pria itu bernama Andi. Namun bila ku ingat-ingat kembali, dia ( Andi )
selalu ada untuk menolongku di saat aku butuh pertolongan dan mungkin karena
hanya hal inilah, sewaktu dia memintai tolong kepadaku untuk menjadi seorang
kembang mayang di resepsi pernikahannya, tanpa berfikir dua kali aku pun
mengiyakan permintaanya meskipun sebenarnya aku sedikit tak terbiasa menjadi
seorang kembang mayang.
Di atas sebuah kursi panjang aku duduk
berdua dengan safa di temani seorang anak perempuan kecil di samping kiri
tempat kami duduk berdua, dan di sebelah kanan kami, hanya terlihat kedua
mempelai yang terlihat begitu bahagia di bawah teduhnya langit malam yang bermuram
diri.
Aku adalah orang yang sedikit tak menyukai
untuk berbaur dengan orang baru yang akan kukenali apalagi ketika menjadi
seorang kembang mayang, mungkin hanya karena alasan inilah aku sedikit menghindari
untuk tak duduk berpasang bersama dia seorang wanita yang tak ku kenali sama
sekali namun pada akhirnya aku begitu bersyukur ketika orang yang berpasangan
denganku adalah yuni, seorang wanita yang telah ku kenali sudah cukup lama
sedari aku SMP hingga selulusku dari SMA. Duduk berdua berpasang dengan yuni
menjadikanya mungkin lebih menenangkan untukku ketika sejenak ku intip samsul
yang duduk berdua bersama dia, aku hanya melihat kebisuan yang membalut kursi
panjang dimana hanya cukup terisi oleh mereka berdua. Mungkin bila aku menjadi
samsul, benar-benar membuatku kan merasa tak bernyaman diri seperti itu hingga sesaat
setelah aku memperhatikan mereka berdua tanpa ku sadari aku melihat ada 3 kursi
berwarna hijau yang terbuat dari plastik berada di depan sedikit menyamping
dari tempat dudukku dan yuni, seolah ke-3 kursi itu menjadi salah satu
persiapan mereka di resepsi pernihkahan Mas Andi di malam itu.
Tanpa sedikitpun adanya perasaan canggung
terhadap yuni, aku pun memulai pembicaraan bersamanya dimana sebenarnya
pembicaraan itu hanya untuk mencandainya dengan kata-kata kapan yuni akan
menyusul atau pacarmu anak mana hanyalah sebuah kata penghibur untuk mengisi keheningan
di antara kami hingga sesaat ketika beberapa senyuman yang terlihat dari yuni
sedikit membuatku lupa diri untuk mencandainya namun bagiku hal ini begitu
membuatku merasa nyaman untuk diriku sendiri meski sebenarnya yuni menurut
pandanganku adalah sesosok pendiam, akan tetapi aku menghiraukan hal itu dimana
aku berfikir akan lebih menyenangkan bila aku menghiaraukan hal yang membatasi
untuk kami bisa saling mencandai satu sama lain meski lagu bergenre dangdut pun
silih berganti dari judul 1 kejudul lainya terdengar dari sound system membuatku
merasa tak nyaman saat mendengarkannya. Namun bersenda canda bersama yuni lah satu-satunya hal yang membuatku merasa nyaman,
meski sebenarnya aku pun berusaha tak menghiraukan lagu dangdut tersebut dan
memalingkan sedikit ketidak nyamananku dengan melampiaskan candaku bersama yuni.
Diantara canda kami yang saling
bersahutan, aku sedikit memperhatikan para tamu yang terlihat duduk di depan
kami dimana tanpa ku sengajai aku melihat sedikit menyilaukan mata dengan
bedak, lipstick, perona pipi, dan lain sebagainya mereka bertiga terlihat
berjalan pelan melewati para undangan yang duduk di depan kami berdua yang
menghadiri resepsi pernikahan Mas Andi dan kira pertamaku, mereka hanyalah tamu
undangan norak dengan pakaian berlebih yang mereka kenakan namun ketika mereka
terlihat terus berjalan menaiki kuade dengan tangga kecil menuju ke-3 kursi
plastik di sampingku membuatku bertanya-tanya mengenai siapa mereka.
Untuk beberapa saat ketika mereka telah duduk
di atas kursi plastik itu, aku memperhatikan mereka sejenak hingga pada
akhirnya aku melihat mereka bersiap diri dan berdiri meninggalkan tas mereka
terbengkalai di atas kursi plastik hijau di depanku, entah apa yang akan mereka
lakukan aku hanya menanyakan semua itu kepada diriku sendiri hingga sewaktu
mereka memegang mike, aku pada akhirnya mengerti dengan apa yang mereka bertiga
lakukan bahwa mereka akan mengisi acara resepsi pernikahan Mas Andi dengan
beberapa lagu dangdut secara live. Kali ini tentu saja membuatku benar-benar
tak menyukainya mungkin bila ku tahu perincian acara resepsi pernihkahan Mas Andi
kan seperti ini mungkin lebih baik aku tak menghadirinya dimana pada akhirnya
aku tak mampu memposisikan diriku senyaman mungkin untuk menjadi salah satu
kembang mayang bila ada acara seperti ini.
Hingga ketika persiapan mereka terlihat usai
seketika mereka bertiga pun bernyanyi dan bersamaan dengan suara mereka terdengar
yang dari sound system seketika aku pun menghela nafas panjang dengan perasaan
ketidak nyamananku disaat aku mendengar mereka bersama-sama menyanyikan satu
lagu bergenre dangdut secara bergantian yang mungkin satu lagu ini menjadi
pembukaan dari penampilan mereka bertiga. Dengan rasa jenuh aku memperhatikan
beberapa tamu yang datang satu persatu, tamu yang berdiam diri ataupun bercanda
dengan temannya, dan masyarakat sekitar yang berdiri dari kejauhan ataupun di
samping panggung kecil resepsi pernikahan, mereka semua hanya terlihat memandangi
ke-3 wanita itu bernyanyi di atas panggung kecil seolah mereka semua begitu
menikmati dengan apa yang ke-3 wanita itu nyanyikan kini bersenda canda dengan
yuni tak lagi mampu menahan ketidak nyamananku saat ada ke-3 penyanyi itu di
depanku menyanyikan genre lagu yang sama sekali tak ku senangi.
Mereka nyanyikan sebuah lagu itu bersama
sebagai pembukaan dari penampilan mereka bertiga, kemudian mereka menyanyikan
satu demi satu lagu secara bergiliran bersamaan dengan goyang tubuh mereka yang
terlihat berlenggak lenggok di atas sebuah pentas kecil, mereka terlihat begitu
menikmati lagu yang mereka bawakan dan apa yang mereka tontonkan itu seolah
sudah terorganisir dengan begitu baik sebelum mereka tampil di depan umum
seperti itu atau mungkin mereka sudah sedikit menuai pengalaman sebelum mereka
tampil di atas pentas kecil seperti ini.
Meski aku tak begitu memperdulikan semua
lagu atau pun mereka yang bernyanyi di sampingku, waktu terasa begitu berjalan
lambat ketika aku mendengar mereka bernyanyin hingga mereka telah bernyanyi satu persatu
tiba-tiba saja mereka bertiga berhenti dan terlihat menduduki kembali kursi yang
telah di siapkan untuk mereka bertiga di samping kanan kami, aku hanya merasa
begitu lega ketika mereka berhenti
bernyanyi.
“ Alhamdulillah,
udah selesai “
ucapku dalam hati bersama senyuman kecil di
raut wajahku
Lalu tak berselang lama saat mereka berhenti
bernyanyi, terdengar seseorang yang bersuara lembut seperti wanita memanggilku
dan yuni dari arah samping kiri kami.
“ Mas, Mbak! “ panggilnya untuk kami berdua
Seketika kami pun menoleh kearah panggilan
tersebut dimana nyatanya yang memanggil kami berdua hanyalah seorang pria
berpenampilan wanita.
“ Nanti waktu pengantinya turun untuk
mengitari sesajen, kalian cukup mengikutinya saja ya” Imbuhnya
Aku hanya berdiam diri dan mengangguk sekali
seolah aku benar mengerti dengan apa yang lelaki berpenampilan wanita itu
katakan dimana sebenarnya aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang dia
ucapkan.
Tak
butuh waktu berlama setelah aku mendengar arahan dari lelaki berpenampilan
wanita itu yang menghampiriku dan yuni, sejenak aku melihat Mas Andi bersama istrinya
yang secara tiba-tiba untuk mengitari sesajen seperti apa yang di kataka pria
berpenampilan wanita itu katakan dan bersamaan dengan turunnya mereka berdua seketika
membuatku bingung harus melakukan apa, seolah aku begitu takut membuat kesalahan
yang mungkin merusak hari terpenting mereka, karena ini kali pertama untukku
ketika menjadi seorang kembang mayang seperti ini namun untungnya ada yuni yang
terlihat mengerti hingga pada akhirnya dia mengarahkanku untuk segera bergegas
berjalan di belakang istrinya Mas Andi. Perasaan gugup yang menyerui pikiranku
aku hanya berfikir mengikuti mereka berdua untuk mengitari sesajen itu selama 3
kali dan sesaat setelah ritual itu berakhir aku hanya berjalan melihati arah
bawah melihat wanita dengan rok yang di sebut sewek berjalan di depanku tanpa
melihat arah yang ku tuju dan tiba-tiba saja ketika wanita di depanku duduk aku
juga ikut duduk namun hingga sesaat aku menduduki kursi akhirnya aku mengerti
bahwa tempat yang ku duduki bukanlah
tempat duduk pertama kalinya dimana seharusnya aku berada. Dimana seharusnya
aku duduk di samping kiri pengantin, ternyata
aku berada di samping kanan dan seketika aku melihat pasanganku ( yuni ). Seketika
aku merasa begitu malu, karena pasanganku yang seharusnya yuni berubah menjadi
dia yang berada disampingku dimana sebelumnya menjadi pasangan samsul. Pada
akhirnya aku pun menoleh ke arah kiriku dan memanggil samsul sesaat, hingga
samsul melihat, aku meminta maaf kepadannya dengan bahasa isyarat namun setelah
aku meminta maaf kepada samsul, aku
melihat yuni untuk meminta maaf juga kepadannya namun di saat aku melihatnya
senyuman kecil yang terlihat di wajahnya seolah begitu mengolokiku tentang
kesalahan konyol yang ku perbuat.
Aku hanya berdiam diri ketika melihat senyuman
kecil yang mengurungkanku untuk meminta
maaf juga kepada yuni, karena aku merasa begitu malu dengan kesalahan konyolku untuknya
dan karena insiden kecil ini. Aku dan dia pada akhirnya pun terpaksa untuk duduk berpasangan
di atas sebuah kursi panjang yang hanya cukup terisi oleh aku dan dia, perasaan
gugup yang ku alami terasa begitu canggungnya meski sekedar untuk ucapkan
sepatah kata untuk meminta maaf juga kepadanya. Pada awalnya aku merasa tak
menyukai bila harus duduk berdua bersamanya mungkin karena aku tak mengenalnya
atau dia yang juga sebaliknya hingga kami berdua pun hanya duduk berdiam diri
satu sama lain seolah kami berdua terlihat begitu bermesrah diri dengan
kecanggungan yang terasa di antara kami berdua.
Sesekali aku pun melihatnya untuk utarakan
kata maaf dan mungkin ucapkan beberapa pertanyaan untuk memecah keheningan kami
berdua namun ketika aku melihat riasan di wajahnya yang terlihat berlebih juga pelembab
bibir yang dia kenakan terlihat sedikit mempercantik dia dengan tambahan perona
di pipinya hingga membuatku begitu canggung ketika memulai pertanyaanku untuknya dan sesaat aku pun berdiam diri,
memikirkan kata pertama yang tepat untuk memulai dari mana terlebih dahulu memulai
pembicaraan kami berdua namun pada akhirnya aku tak mengerti kata apa yang
tepat untuk memecah keheningan kami berdua ketika hanya kesalahan konyol yang
ku lakukan adalah satu-satunya yang mampu terfikirkan olehku dan aku pun juga berfikir
mungkin bila tiba-tiba menanyakan sesuatu hal kepadanya mungkin dia akan
menganggapku sebagai seorang yang sok kenal atau pun orang sok akrab dan bahkan
mungkin aku juga kan terihat sebagai laki-laki yang menggodainya bila mengingat
dimana kota ini kebanyakan laki-laki begitu menyukai saat menggodai wanita jika
aku utarakan beberapa pertanyaan untuknya, dari orang yang tak dia kenali.
Di antara aku memikirkan semua itu ketiga
penyanyi yang sebelumnya begitu terlihat cantik bila mereka hanya berdiam diri
di atas ketiga kursi yang mereka duduki tanpa harus melanjutkan untuk mengisi
acara dengan nyanyian mereka, kini pun ketiga penyanyi itu terlihat berdiri
kembali dan bersiap diri untuk nyanyikan beberapa lagu kembali sesaat setelah
ritual yang kami berempat lakukan telah usai. Pada akhirnya hanya ada kejenuhan
yang terasai olehku ketika aku mendengar mereka bertiga bernyanyi kembali
dimana apa yang mereka nyanyikan hanya membuatku begitu tak nyaman mendengar
lagu yang mereka nyanyikan namun ketika aku menoleh ke arah kananku, seketika
perasaan jenuh itu berubah menjadi senyuman kecil ketika disana aku melihat seorang
anak perempuan kecil yang juga diriasi berlebih duduk menyendiri dengan tubuh
mungilnya, ekspresi canggunggunya atau pipi tembem yang di milikinya, anak
perempuan kecil terlihat begitu menggemaskan ketika aku melihatnya, dan
bersamaan ketika mata ini menatap anak perempuan kecil itu fikiran-fikiran jail
dari salah satu sifatku pun berlintas diri, menggodaiku untuk menjailinya.
“woi! Woi!” sambil menjawil pundak kecilnya
Anak perempuan kecil itu menoleh dan
menatapku
Aku tersenyum sambil membuat wajahku seaneh
mungkin terlihat olehnya, alisku yang ku naik turunkan dengan cepat bersamaan
dengan jari telunjuk tangan kiriku mengorek-orek upil.
Anak perempuan kecil itu hanya berdiam diri
dengan wajahnya tanpa terlihat sedikit ekspresi di wajahnya. Meski telah ku
buat wajahku seaneh mungkin untuk terlihat olehnya dia melihatku tanpa sebuah
ekspresi apapun seolah anak perempuan kecil itu tak peduli denganku dan
mengganggap apa yang ku lakukan hanyalah tindakan bodoh yang tak penting untuk
melihatnya dan pada akhirnya anak perempuan kecil itu memalingkan wajahnya
untuk tak melihatku.
Perasaan semangatku yang timbul dari
kecuekannya saat aku menjailinya pertama kali semakin membuatku ingin melakukan
kejailan-kejailanku kepadanya mungkin hanya karena salah satu sifatku ini sudah
mendarah daging untuk diriku sendiri.
Beberapa saat setelah dia memalingkan
wajahnya dariku pada akhirnya aku pun memnanggilnya kembali, tanpa suara untuk aku
memanggilnya, aku menjawil pundak kecilnya kembali itu untuk kedua kali dan
seketika dia pun menoleh.
Aku pun hanya mengulangi apa yang ku lakukan
kepadanya seperti di awal kali aku melakukanya, tak seperti pertama kali saat
aku menjailinya, kali ini anak perempuan kecil
itu meski masih melihatku dengan muka tanpa ekspresinya namun dari
caranya memalingkan wajahnya yang sedikit lebih cepat bila ku bandingkan dari
pertama kali saat dia memalingkan wajahnya dariku membuatku sejenak hentikan
kejailanku untuk memperhatikannya, bagaimana anak perempuan kecil itu duduk,
ekspresinya yang terlihat bertambah canggung, ataupun gerak gerik tubuhnya yang
anak perempuan kecil itu tunjukan kepadaku begitu memperlihatkan bahwa anak
kecil itu begitu tak nyaman dengan kejailanku yang ku lakukan kepadannya.
Seketika senyuman yang terlihat di wajahku
saat memperhatikannya seolah begitu tunjukan bahwa aku begitu menyukai saat
dimana korban kejailanku merasa tak nyaman seperti anak perempuan kecil itu tunjukan
namun perasaan kurang puas untuk menjailinnya begitu terasa hingga sesaat aku
berdiam diri dan memikirkan tingkah kejailanku untuk terealisasikan kepada anak
perempuan kecil itu, lalu aku pun mengingat bagaimana caranya ulat keket
berjalan yang ku tonton dari channel nat geo wild di sore hari. Dengan ingatan
itu seketika aku bereksperimen dengan jari kelingking tangan kananku, memanjang
dan memendek gerak gerik yang terlihat dari jari kelingking tangan kananku,
meski tak semirip aslinya namun bagiku gerak jari kelingkingku itu sudah
sedikit menggelikan untuk ku tunjukan kepada anak perempuan kecil itu karena
aku saja sedikit geli saat melihatnya dan sdikitpun tak menyangka bahwa jari
kelingkingku bisa nampak menggelikan seperti ini. Tanpa jawilan atau pun
panggilan untuk anak kecil itu menoleh kepadaku, ku dekatkan tangan kananku
bersamaan dengan jari kelingkingku yang bergerak memanjang-memendek ke arah
wajahnya dan ketika jari kelingkingku terlihat olehnya, seketika anak perempuan
kecil itu pun menghindarinya seolah anak kecil itu terlihat begitu jijik saat
melihat jari kelingkingku bergerak memanjang-memendek seperti itu yang terus
semakin mendekatinya. Aku pun hanya tersenyum di saat melihat raut wajahnya
yang terlihat semakin menggemaskan dengan ekspresi jijiknya terhadap jari
kelingku dan aku pun begitu menikmati saat dimana aku melihat wajah anak
perempuan kecil itu semakin menggemaskan, terus, terus, dan terus jari
kelingkingku mendekatinya wajah anak perempuan kecil itu semakin terlihat
menggemaskan bersamaan dengan jari kelingkingku mendekatinya
“
Suka yang kecil ta mas? ”
Seketika aku menoleh ke arah dimana suara
itu terdengar
Suaranya yang terdengar diantara bisingnya
lagu dangdut yang masih di nyanyikan ketiga penyanyi di malam itu begitu
mengagetkanku juga menggangguiku dari saat-saat betapa menyenangkannya aku
menjaili anak perempuan kecil disamping kananku
“ Wwoooohhh…….. ya enggak lah! Ngelihat anak
kecil ini loh nggemesin banget jadi ngebikin gatal pengen ngejailin dia, sini
lihato juga kalo kamu gak percaya! ”
Seketika pula aku membantah dengan apa yang
dia katakan kepadaku dimana apa yang dia katakan sungguh mengataiku sebagai
seorang pedofil/lolicon
Namun dia hanya diam seolah ingin melihat
dengan apa yang ku katakan kepadanya
Setelah aku berkata seperti itu kepadanya,
aku pun menggerakkan jari kelingkingku mendekati anak perempuan kecil
disampingku kembali dan ketika di saat anak perempuan itu melihat jari
kelingkingku seperti itu kembali, seketika dia pun terlihat menghindari jari
kelingkingku bersama dengan ekspresinya terlihat jijik yang begitu membuatnya
nampak sungguh menggemaskan ketika anak perempuan kecil itu menghindari jari
kelingkingku, hingga ketika kurasai sudah cukup untuk menunjukkan kepadanya
pada akhirnya ku hentikan sejenak dan melihat dia yang menyatakan diriku
sebagai seorang pedofil.
“ Gimana? Kelihatan nggemesin banget kan? ”
tanyaku dengan sedikit kegirangan mengingat ekspresi anak perempuan kecil itu
terlihat begitu menggemaskan
“ Iya sih mas, tapi kelihatan takut anaknya
Jadi kasihan aku ngelihat anak itu mas ”
“ Disitulah
letak betapa menyenangkanya saat menjaili, sini tak ajarin! ”
Sejenak ku gerakkan kembali jari kelingking
tangan kananku sama seperti saat aku menjaili anak perempuan kecil itu untuknya
dan dia yang terlihat memperhatikan jari kelingkingku saat itu.
“ Gimana? Sekarang cobao! ”
Dengan jari kelingkingnya yang terlihat
kurus memanjang, hanya ada seorang wanita yang terlihat serius menggerakkan
jari kelingkingnya, seolah dia begitu serius dengan jari kelingkingnya yang
dia punyai untuk bisa melakukannya namun
meskipun dia telah berusaha agar bisa melakukannya, hanya saja gerak jari
kelingking bergerak perpatah-patah dengan betapa kaku jari kelingkingnya untuk
menirukan gerak jari kelingkingku hingga bagiku hanya ada sebuah kata aneh saat
aku melihatnya dan seketika aku pun tersenyum sedikit menahan gelagak tawaku di
dalam hati.
“ gak bisa mas! ” nada suara yang terdengar
dengan sedikit mengeluh
Aku menggerakkan kembali jari kelingkingku,
sambil menjelaskan beberapa poin-poin penting untuk dia bisa melakukannya meski
sebenarnya aku ingin menlihat jari kelingkingnya bergerak berbengkak-bengkok
kaku seperti sebelumnya.
“udah paham kan?” aku tersenyum meyakinkanya
Dia mengangguk seolah memahami dengan apa
yang ku jelaskan kepadanya
“ Nha….sekarang cobao lagi! ” imbuhku
Dia terlihat mencobanya kembali dengan penuh
kegigihan agar bisa melakukannya namun pada akhirnya meski tetap ku jelaskan
bagaimana caranya, jari kelingkingnya tetap saja terlihat bergerak membengkak
bengkok seperti cacing kepanasan dimana seketika saja jari kelingkingnya
membuatku tersenyum kembali untuk menertawakannya, mungkin ini yang bisa di
sebut dengan takdir dimana meskipun telah berusaha sekeras mungkin namun tetap
tak bisa melakukanya.
“ Hhhuuhhhhh…… tetap gak bisa loh mas! “ suaranya
terdengar bertambah mengeluh kepadaku
“ Berarti
kamu gak bakat wes ngejailin orang kalo begitu ”
Sebenarnya sih aku pengen ya, mengibur dia
dengan ucapan motivasi gitu biar dia bisa semangat lagi buat nyoba sekali lagi
ya meskipun ujung-ujungnya niatku buat ngetawain dia juga sih namun pada
akhirnya, aku hanya memberhentikan pemikiran itu untuknya.
“ Emang aku anaknya pendiem mas, jadi gak
cocok buat ngejailin orang ” sambil tersenyum
Sepintas apa yang ku lihat di wajahnya
hanyalah senyuman malu-malu dari seorang wanita biasa namun ketika aku
memperhatikan wajahnya secara seksama, disana aku juga melihat ada rasa sedikit
berbangga diri dengan apa yang kau katakan. seolah dia patut berbangga dengan
ap yang dikatakannya di malam itu yang sejenak membuatku berjengkel diri
kepadanya.
Mungkin inilah kali pertama dia membuatku
begitu jengkel dengan apa yang dia katakan kepadaku dimana sering kali dia
hanya tak mengetahui seberapa menjengkelkanya dia menemaniku.
Sedari momen kecil itu nuansa hening yang
terasa menyelimuti kami berdua di atas sebuah kursi panjang sebelumnya pada
akhirnya memudar perlahan-lahan ketika senyuman kami bedua hanya saling
bersahutan satu sama lain dimana kejailanku nyatanya menjadi sebuah pembuka di antara
canda demi canda yang kami lantunkan berdua di malam itu namun di sela-sela
betapa menyenangkannya canda kami berdua di saat itu aku sempat berfikir
mungkin seharusnya aku meminta maaf atas kesalahan konyol yang ku perbuat dan segera
menanyakan beberapa hal kepadanya untuk sekedar memecah keheningan kami berdua
di awal kali aku melakukan kesalahan sekonyol ini.
Cerita demi cerita yang kami berdua
lantunkan pada akhirnya membawa beberapa senyuman kecil kami berdua saling
bersahutan yang telah berpintas diri menghiasi teduhnya langit yang terlihat
bermuram diri hingga senyum yang bersahutan itu menjadi sebuah penghangat kecil
bermakna dimana menjadi satu-satunya makna di awal kali kami berdua bertemu
dari seberapa indah sebuah kenang indah kan tercipta di kemudian hari bersama.
Tiba ketika dia bercerita di sampingku, aku
hanya mendengarkan dia bercerita disampingku meski bising lagu dangdut
bercengkrama penat terdengar olehku namun sesaat yang terlihat hanyalah seorang
wanita yang begitu antusiasnya menceritakan kesehariannya sebelum kami berdua
bertemu di atas sebuah kursi panjang itu.
Untuk
sejenak aku melihat beberapa tamu undangan yang hadir di resepsi pernikahan Mas
Andi yang duduk didepan kami berdua namun tiba-tiba saja aku melihat seorang
wanita yang begitu terspesial di hidupku berjalan di antara para tamu undangan
dan langkah pelannya membawa seorang wanita itu ke arah dimana aku duduk berdua
bersamanya yang masih terdengar bercerita mengenai beberapa kejadian lucu di
kehidupanya.
“ ibu foto yo le ” kata ibuku sesampainya
didepanku
Ketika aku mendengar pinta ibuku, sejenak
membuatku tak tau harus bagaimana untuk menjawabnya meski rasa ingin untuk punyai
kenangan bersamanya di malam itu sedikit menguat dimana mungkin ketika hari
esok menjelang kami berdua tak lagi bertemu dan menghabiskan waktu seperti di
malam ini, karena aku mungkin takkan meminta hal lebih untuk seseorang wanita yang
tak pernah ku kenali sama sekali namun aku juga harus mengesampingkan
keinginanku itu hingga sejenak aku pun akhirnya menoleh kepadanya yang berhenti
bercerita bersamaan dengan datangnya ibuku.
“ Gimana? Kamu mau apa enggak kita berdua di
foto sama ibuku? ” tanyaku untuknya yang terdengar sedikit ragu menanyai hal
itu kepadanya
“ Iya
wes mas ” dia menjawabnya dengan nada yang sedikit kecil seolah dia terlihat malu
dengan ibuku di saat itu.
“ Iya wes bu ” sambil mengangguk
Seketika ibuku pun terlihat mengeluarkan
ponsel dari dompet hitam yang dia bawa dan tak lama setelah ibuku mengeluarkan
ponselnya dia terlihat memencet beberapa tombol yang mungkin untuk membuka kunci
ponselnya ataupun membuka fitur kamera, beberapa langkah kecil berjalan kearah
depan yang terlihat setelah ibuku memencet beberapa tombol itu mungkin hanya
menyesuaikan jarak antara kamera ponselnya dengan kami berdua yang menjadi
objek foto dari ponsel ibuku.
“ Cekrek ” bunyi dari ponsel ibuku setelah
memfoto
Ibuku terlihat memperhatikan hasil dari
fotonya yang terambil dari kami berdua namun ibuku terlihat kembali memfoto kami
berdua di tempat yang sama
“ cekrek ” bunyi kedua dari ponsel ibuku
Ibuku kembali memperhatikan layar ponselnya sesaat
setelah dia memfoto kami berdua seolah ibuku memperhatikan hasil foto ke-dua
yang terambil dari kami namun kali ini ibuku hanya terlihat sedikit berdiam memperhatikan
ponselnya hingga ketika dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam dompet hitam,
aku hanya mengira bahwa mungkin ibuku sudah merasa sedikit puas dengan hasil
yang telah ibuku dapatkan.
“ Ibu tinggal dulu yo le? ” pamitnya
“ Enggeh pun buk ” sambil mengangguk
Tak berselang lama setelah ibuku mendengar
jawabku ibuku terlihat berjalan pelan menjauhi kami, nuansa hening yang sesaat
terasa bersamanya setelah ibuku memfoto kami berdua sedikit membuatku canggung
dan entah aku harus berkata apa kepadanya yang juga terlihat canggung untuk sejenak
saja membuka keheningan kami berdua.
“ malu aku tadi mas sama ibumu ”
Suaranya yang terdengar memecah kembali
keheningan kami berdua namun dari kata yang terdengar olehku justru menambah kecanggunganku
kepadanya lalu untuk sesaat aku berfikir mungkin aku telah merusak kenyamanan
bersenda canda kami berdua di malam itu
“
Maaf ya, aku juga gak ngerti kalo ibuku datang tiba-tiba buat ngefoto
kita berdua “
“Iya mas, gak apa-apa. Aku cuman sedikit kaget
aja sih mas kalo ibumu tiba-tiba datang kayak gitu terus ngefoto kita berdua ”
Aku hanya berdiam diri setelah aku mendengar
kata yang terdengar sedikit kesal darinya sambil merasa tidak enak kepadanya,
dengan perasaan tidak enak itu aku mencoba memberanikan diriku untuk ucapkan
beberapa kata yang mungkin bisa memalingkan pembicaraan canggung kami berdua
namun sesaat ketika aku melihatnya yang terlihat hanyalah hela nafas panjangnya,
entah dia mengambil nafas panjang itu untuk menyabarkan dirinya atau untuk
menenangkan dirinya namun nafas panjang itu membuatku mengurung niatanku untuk
berkata beberapa hal kepadanya mungkin karena aku berfikir bahwa nafas panjang
itu adalah luapan kesalnya tentang kejadian yang belum lama terjadi.
“ apa sih mas, ngelihatin aku sampai
segitunya? ”
Sebuah tanya yang terdengar olehku membuatku
sedikit terkejut, hingga ketika aku tersadar aku telah menatapi dia sedikit
lebih berlama hanya terfikirkan mengenai sebuah perasaan canggungku untuknya
dimana hanya ada sebuah perasaan bersalah membelengguku untuk ucapkan beberapa
hal yang mungkin saja menjadikan sebuah awal baru untuk kami bersenda kembali.
“ Aku
cuman ngerasa gak enak aja sama kamu? ”
Pada akhirnya aku pun mengungkapkan secara
tak langsung kepadanya dan untuk sesaat aku merasa begitu bodoh dengan apa yang
telah ku katakan kepadanya yang mungkin saja apa yang ku katakan itu merusak
kembali nuansa kami berdua untuk bersenda kembali namun sesaat ketika mata ini
memandinginya dia hanya berdiam sesaat, lalu dia melihatku dan memberi sebuah
senyuman kecilnya yang terlihat hangat diwajahnya sedikit menenangkanku dari
derai canggungku untuknya kala itu.
“ Santai
aja wes mas, lagian aku juga bilang gak apa-apa kan? Itu tandanya aku udah
maafin”
Sekali lagi dia memberi senyuman kecil
untukku
“ Iya, tapi kan? ”
“ Iya mas, gak apa-apa kok ” dia kembali
tersenyum seolah ingin meyakinkanku dengan senyumnya
Hanya ada sebuah perasaan yang begitu lega
berteduh diantara detak jantungku ketika sebuah senyuman demi senyumanya begitu
menenangkanku dari betapa canggungnya diri ini ketika sebuah rasa malunya membingungkanku
dengan sebuah perasaan bersalah yang seketika menghadiri sesaat dia
mengatakanya, entah benar atau tidakkah dia telah memaafkanku namun bagiku
sudah cukup untuk meneruskan betapa canggungnya rasa bersalahku kepadanya
hingga tak berselang lama ketika dia telah meyakinkanku hanya ada sebuah senda
canda yang mampu menyelimuti awal kali kami berdua di malam itu. senyuman yang
saling berias di antara wajah kami berdua menjadikanya sepotong bait kirana
meski malam terlihat bermuram diri, meski lagu dangdut begitu penat terdengar
olehku, meski seberapa banyak orang yang memperhatikan kami berdua, tiada
satupun yang mampu ku pedulikan di mana hanya ada sebuah sayunya pertemuan ini
yang akan membawa kami berdua untuk mengenali satu sama lain.
Begitu nyaman sebuah senda canda kami berdua
yang ku rasakan untuk diriku sendirihingga ketika sesaat aku memalingkan
wajahku aku tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang datang dari arah
kananku hingga bersamaan dengan kedatanganya anak perempuan kecil yang menjadi
sebuah korban teraniaya dari sifat kejailanku, seorang korban pembuka dari
betapa hangatnya malam kali kami berdua pada akhirnya berundur diri dan
menghakhiri tugasnya di malam resepsi pernikahan Mas Andi.
“Jam berapa ini?” tanyaku dalam hati sambil
melihat langit muram dari posisi dudukku
Sebuah ponsel kecil yang ku selipkan di
antara lipatan sewek yang ku kenakan menjadi sebuah pelampiasan dari keinginin
tahuanku mengenai waktu kala itu, dimana disana hanya ada sebuah angka yang
mungkin aku sedikit berharap bahwa angka disana sedikit melambat dan
menghabiskan kehangatan dari senda kami berdua sedikit lebih berlama lagi
hingga ketika di saat kami berdua akhiri pertemuan ini tiada satupun alasan
untuk memberatkan diriku ketika di hari esok mungkin kami berdua tak lagi
bertemu.
Aku kembali melamun untuk beberapa saat
ketika aku melihat waktu di depan layar ponselku , melamuni tentang sebuah
keinginin tahuanku tentang seutas nama dari seorng wanita disampingku dimana
sebenarnya pertanyaan ini mungkin telah tersimpan rapat sedari awal kami berdua
bersenda canda namun meski aku begitu ingin tahu, pada akhirnya aku hanya
selalu menahan keinginan itu hanya karena tertahan sebuah pemikiran takut bahwa
mungkin dia kan menganggapku sebagai seorang pria yang menggodainya dan
mempunyai sebuah maksud tersendiri ketika aku telah mengetahui seutas namanya.
“ Mas! ”
Panggilnya yang memecah keheningan di antara
lamunanku sesaat ketika aku melihat layar ponselku
“ ya, kenapa? ”
“ Kamu bawa hp mas? ”
“ Iya, lah ini! ” sambil menunjukkan
ponselku kepadannya
“ Lah, ponselmu kok hampir mirip ya sama
punyaku mas, tapi punyaku warna biru mas? ”
“ Loh iya ta? ” tanyaku sambil pura-pura
terkejut
“ Iya mas ”
Sejenak nuansa hening menyelimuti kami
berdua kembali, entah apa yang harus ku tanyakan lagi kepadannya yang hanya
terlihat berdiam dan memalingkan wajahnya dariku hingga sesaat ketika melihatku
kembali,
“ aku boleh minta nomor ponselnya kamu gak
mas? ”
Hanya ada perasaan gugupnya yang terdengar
samar di antara nada ucap katanya untukku di saat itu
“ iya
boleh, Buat apa emang? ”
“ Buat temenan lah mas! ”
Suaranya yang terdengar berlantang semakin
menunjukkan bahwa dia bertambah gugup dengan apa yang ku tanyai kepadanya.
“ Iya wes, nanti setelah turun dari sini ya?
”
“ Iya mas ”
Dia hanya berdiam diri sejenak seusai
pembicaraan kami berdua, seolah di antara hening itu dia mencari celah untuk
sedikit saja menyelipkan sebuah kata penghapus dari betapa canggungnya beberapa
kata yang tersampai untukku, hingga ketika aku menanyakan sebuah pertanyaan
kepadanya, menjadikanya sebuah pembuka dari betapa nyamannya bersenda canda
bersamanya yang seakan kehangatan dari senda canda kami berdua menjadi riasan
kecil di bawah teduhnya langit yang terlihat bermuram diri di malam itu, bagiku
kata hanyalah kata yang saling berlantun terdengar untuk mengungkap isi hati
hingga ketika riasan perona di pipinya terlihat begitu sayu menyemai wajahnya, menyemai setiap Senyumannya yang terlihat
begitu hangat mengisi ataupun lembut nada suaranya yang sesekali terdengar
memecah keheningan kami berdua.
Hingga suatu ketika seorang pria yang
bersuara wanita tiba-tiba mendatangi kami berdua dari arah sebelah kanan, bila
ku ingat seorang pria itu adalah orang yang sama ketika memberitahuku untuk
mengitari sesajen bebapa jam lalu sebelum kesalahan konyolku.
“Mas,
mbak, kalian sudah boleh turun! “ ucapnya
“ oh, iya mas! ” jawabku kebingungan
memanggil apa kepadanya
Setelah pria bersuara wanita itu
memeberitahu kami berdua, pria itu bergegas menuju samsul dan yuni yang berada
di samping kiri kami berdua.
Dia berjalan mendahuluiku yang terlihat
sedikit kesusahan dengan ketatnya rok sewek yang dia kenakan, namun setelah dia
menuruni beberapa anak tangga, langkah demi langkah pelan yang ku perhatikan
darinya hanyalah langkah yang terlihat tiada anggun-anggunnya sama sekali,
hingga setiba kami berdua di sebuah lorong samping kiri rumah istri Mas Andi hanya
ada sebuah meja kayu berwarna hijau membentang sedikit lebar lengkap dengan dengan
beberapa kursi menemaninya. Pada akhirnya kami berdua berhentikan langkah kami
disana sejenak untuk merehatkan letihnya tubuh kami sesaat semuanya telah usai,
beberapa ucap kata sesaat setelah kami berduduk di atas sebuah kursi menjadi
sebuah anti-klimaks dari sebuah cerita di kali pertamanya pertemuan kami berdua
di malam itu. perasan legaku hanyalah sebuah campuran manis dari seberapa
pahitnya keinginanku untuk sedikit lagi berlama denganya, sedikit lama lagi
untuk melihat senyumanya, menginat bahwa kehangatan sebuah senda canda di
antara kami berdua pun sebentar lagi kan hilang bersama berlarutnya malam
merajuk dengan kesunyianya hingga ketika beberapa saat kemudian samsul dan yuni
yang sudah turun mereka pada akhirnya ikut bergabung untuk merehatkan tubuh mereka
sejenak namun dia terlihat menghampiri yuni saat itu.
“ mas tungguin bentar ya, aku tak ngambil
ponselku di dalam “
“ okee “
“ Waduh
kelihatannya kamu mesrah gitu sama Nagisa ( dia ) , Dan!” samsul menggodaiku
dengan ekspresi wajahnya tersenyum
Mungkin sepintas apa yang di katakan samsul
membuatku seketika mengerti bahwa seorang wanita yang duduk berdua denganku
sebelumnya bernama Nagisa, nama yang tak asing terdengar olehku namun pada
akhirnya aku hanya mampu menebak dan tak mengetahuinya sama sekali.
“ Oooohhh,,,,,
jadi wanita tadi itu namannya Nagisa? ” ucapku sok mengerti
“ Lah kamu gak paham nagisa itu siapa dan? ”
sedikit mendesak untuk mengingat nama itu
Aku kembali berfikir untuk mengingat nama
tak asing itu kembali seolah apa yang di ucapkan dengan samsul disaat itu
sedikit membantuku untuk mengingat nama tak asing itu namun aku tetap saja tak
mengetahuinya.
“ Engga sul, Nagisa itu memangnya siapa sih
sul? ”
“ Lah dia kan adiknya Mas gilang dan, masa
kamu gak tau? ”
Sebuah ucapan samsul mengenai nama Mas
gilang seketika membuatku mengingat tentang seorang gadis kecil yang dulu
pernah ku temui namun aku juga terkejut seiring seberapa lamanya aku tak
bertemu denganya sudah menjadi seorang wanita sepertinya.
“ Lah masa sih rip? ”
“ leh, kamu di bilangin gak percaya, tanyao
sendiri sama anaknya wes dan kalo kamu gak masih percaya! ”
Aku hanya berdiam melamun diterpa seribu
pertanyaan mengenai seorang gadis kecil yang ku temui dahulu hingga seiring dia
tumbuh aku tak mengetahuinya sama sekali, meski samar teringat ketika aku
bertemu dengan gadis kecil itu mungkin sewaktu aku duduk di kelas 2 SMP dan
sejenak bila ku bandingkan dengan wanita yang duduk di sampingku sungguh
membuatku tak mempercayai sama sekali dengan apa yang di ucapkan samsul, hingga
sesaat ketika wanita itu berjalan melalui pintu keluar bersama yuni,
“ Ya? kamu beneran a kalo kamu adiknya mas gilang?
” mempertegas ketidak percayaanku
“ Lah kamu gak paham ta mas? ” dia terkejut
dengan apa yang ku tanyakan sambil berjalan ke arah kursi yang berlawanan dengan
tempat dudukku bersama samsul.
“ hah,, masa sih? ” aku memandingtinya
dengan ekspresi penuh ketidak percayaan.
“ loh iya mas ” meyakinkanku dengan nada
yang sedikit keras
Sebuah senyuman kecil yang ku lihat berias
di wajah yubi hanya sebuah senyuman untuk mensenyumi pertanyaanku tentangnya
dimana aku sedikit sulit untuk mempercayai bahwa dia adalah adiknya Mas Gilang.
Aku hanya begitu heran dengan apa yang ku lihat jika aku mengingat dan
membandingkan kali kami bertemu dulu denganya yang sekecil itu tiba-tiba saja
sudah sebesar ini, jika aku perumpamakan mungkin seolah aku melihat pertumbuhan
ayam potong dimana sedari kecil dan menunggu 1 bulan kurang tiba-tiba aja udah
segede gini.
Aku hanya berdiam diri menatapnya dengan
begitu banyaknya pertanyaan yang mungkin sudah terjawab namun aku begitu sulit
menerima bahwa apa yang ku lihat kini memang benar adanya.
“ Mas!, jadi apa engga? ”
“ oh iya sampai lupa, hehe ”
“ ya udah cataten di ponselmu, 085 607…. ”
“ iya mas makasih ya mas ” dia mensenyumiku
kembali
“ cciiyyeeeee, cciiyyeeeee ” ucap yuni untuk
kami berdua
“ apa sih yun? ” jawabku
“ engga apa-apa sih dan ” dia hanya
tersenyum sambil meliriknya
Sebuah Senda canda yang kami lantunkan
berempat di malam itu seakan menjadi pengahangat sebelum kami berempat berpisah
adalah sebuah penyingkat sederhana dari waktu yang telah terlampaui
bersama-sama disana hingga di waktu yang tak terasa, malam semakin berlarut
diri hingga ketika aku melihat yuni dan dia berdiri terlebih dahulu
menjadikanya sebuah isyarat dari awal kali pertemuanku denganya.
“ kami duluan ya ” ucap yuni untukku dan samsul
“ iya
yun! ” jawabku
Hingga beberapa saat setelah mereka berdua
telah memasuki rumah, aku dan samsul beranjak untuk segera mengganti pakaian
kami berdua, di sebuah kamar kecil yang menjadi tempatku dan samsul berganti
pakaian sebelumnya sepatah kata yang berlantun dari samsul untukku terdengar
sedikit bergema mengisi ruangan kecil itu sesaat kami berganti pakian.
“ sebenarnya aku yang harusnya duduk berdua
sama Nagisa dan! “ ucap samsul yang sedikit menyelaku.
“ hahaha, maaf sul. Aku juga gak tau kenapa
aku bisa ngelakuin kesalahan konyol seperti itu tapi ya gimana lagi sul “
“ oalah “ sambil menghela nafas panjang
Aku hanya berdiam diri merasa begitu
canggung harus mengatakan hal lain kepada samsul., hingga pada akhirnya kami
pun hanya berkonsentreasi dengan pergantian pakian kami kala itu.
Sesaat kami telah usai mengganti pakaian,
aku dan samsul beranjak keluar dari rumah istrinya Mas Andi dan disaat aku
berada di samping pentas kecil aku hanya menengok kanan dan kiri hanya sedikit
berharap ku kan mampu bertemu denganya sekali lagi, mengucap kata perpisahan
sebagai persembahan untuk akhiri hari kami bertemu kala itu. Akan tetapi,
sejauh mata ini memandangi yang terlihat hanyalah beberapa wanita yang berjalan
untuk undur diri dari resepsi pernikahan Mas Andi di malam itu.
“ sul, aku tak duluan ya ? “
“ iya dan, hati-hati “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar